Pages

 

:)

16 comments
"Kenapa sih orangtua saya tidak seperti orangtua mereka?"

Pemikiran seperti ini rasanya sering kita jumpai di sekitar kita. Saya pun tidak hanya sekali memiliki pemikiran yang sama. Ada masa-masa dimana kita merasa orangtua kita tidak cukup baik, tidak asik, tidak memperhatikan kita layaknya orang tua lain, tidak suportif, tidak gaul, dan sebagainya. Saya sendiri bahkan suka membayangkan hal-hal apa saja yang seharusnya dilakukan orangtua agar bisa menjadi orangtua yang "sempurna" bagi saya.

Sampai pada suatu malam, sekitar pukul 11, saya mendengar suara berisik di depan kamar saya. Ketika saya membuka pintu, saya mendapatkan pemandangan yang langsung bikin hati terenyuh.



Kedua orangtua saya sedang sibuk men-scan dan fotokopi keperluan adik saya untuk masuk SMP.



Jika mau digambarkan secara visual, mereka adalah orangtua usia 50-an awal dengan wajah ngantuk berat dan berpakaian siap tidur, sedang berbicara mengenai hal apa saja yang diperlukan untuk dibawa esok hari untuk pendaftaran. Padahal, kemarin sorenya mereka baru saja berdebat seakan-akan perang dunia ketiga akan pecah (setidaknya di rumah saya).


Melihat mereka seperti ini membuat saya berpikir ulang. Mereka ini orang asing, lho. Dua orang yang berbeda, dengan latar belakang hidup yang berbeda, berusaha berkompromi satu sama lain. Cinta yang dulu menggebu-gebu rasanya sudah hilang, tapi digantikan dengan pertemanan yang saling peduli dan berusaha untuk terus saling mengerti.

Pemandangan ini juga memancing ingatan saya kembali melihat mereka sebagai pasangan muda usia 20an akhir, dimana mereka masih kerepotan menghadapi saya sebagai tanggung jawab pertama mereka. Setelah puluhan tahun berlalu, mereka masih mau repot dengan hal yang sama. :)

Usia mereka yang sudah tak lagi muda membuat saya semakin sadar bahwa serapuh atau selelah apapun mereka, mereka akan selalu mendorong diri mereka sendiri agar anaknya terus mendapatkan hal yang baik. Salah satunya adalah pendidikan.




"Ma, Pa, mau kakak bantu?"

"Tidak kak, makasih. Kakak tidur saja ya :)"





Saya rasa sudah sepantasnya kita menghargai mereka.
Tidak hanya sebagai orangtua,
tetapi sebagai manusia itu sendiri.

Mereka hebat dengan segala ketidakhebatannya.


- am
















"...tak sempat pamit.."

9 comments
jangan kau pertanyakan, sayang.
betapa bahagianya aku ketika kedua mata kecilmu menatapku.
tangan rapuhmu menggenggam jariku dan jari ayahmu.
hidungmu mirip punyaku, warna matamu kelam seperti ayahmu.
kubawa pulang kau dengan bangga, makhluk kecil yang berbagi darah denganku.

aku tak pernah lupa
saat kau mencari bantuan untuk melangkahkan kaki-kaki goyangmu.
dan kau mencarinya dariku.
sambil mencoba bersuara lewat bibir mungil merahmu itu.
kupeluk dan kucium kau seharian dengan penuh rasa syukur.

kau tak akan mengerti
bagaimana hatiku loncat kegirangan
saat kau mulai bisa memanggilku "ibu".
demi Tuhan, takkan rela kutukarkan kebahagiaan itu dengan apapun.

aku bahagia, sayang. sangat bahagia.
meskipun aku harus terus membohongi diri.
bahwa yang kau genggam itu bukan aku.
bahwa yang kau panggil ibu juga bukan aku.


bahwa selamanya aku hanya bisa hidup 
lewat tatapan-tatapan cinta yang menghujanimu. 


"Ini ibuku yang sekarang. Dulu, kata ayah, ibuku langsung pulang saat melahirkan aku dan tak sempat pamit dengan kami."





- am, berdasarkan mimpi semalam


Nostalgi pada sebuah malam.

18 comments
pukul dua lewat lima pagi.
langit masih menangis sejak tadi.
bau air yang meresap di tanah,
sengaja menjemputku menemui hujan 
di masa lalu.


kala itu senja. 
kita menikmati hujan dari sebuah kedai tua.
kau apik dengan kaus abu.
aku cantik dengan gaun biru.

gemercik air jalanan yang berlomba membasahi kakiku.
rangkulan hangat yang membuatku kaku.
tv tua kecil yang menampilkan kisruh massa,
tidak menggangu kita yang dibuai romansa.




lalu kita terseret waktu.
hingga akhirnya kita mengerti
hujan lebih baik dinikmati sendiri.



kulihat dua lewat sepuluh datang.
bersamaan dengan senyumku
yang muncul perlahan.

yang selalu kuingat adalah.
kala itu senja.
kau apik dengan kaus abu.
aku cantik dengan gaun biru.

aku bahagia pernah secantik itu di depanmu.


Gardika Gigih Pradipta - Nostalgi Pada Sebuah Malam. 


" tenda merah yang menciptakan bahagia"

7 comments

Ada kenangan yang membekas bagi saya mengenai sebuah tenda merah. Pikiran ini seketika melayang mundur.

Saat itu saya berusia 7 tahun. Saya sedang menangis tiada henti karena melihat orangtua yang sedang bertengkar di rumah. Tiba-tiba oma saya mengajak saya pergi tanpa izin orangtua saya. Kami hanya pergi berdua dengan mobil, beliau yang menyetir (oma saya termasuk oma-oma preman yang kuat membawa mobil). Sepanjang perjalanan saya masih menangis ketakutan dan beliau selalu berusaha menenangkan saya. Beliau juga mengatakan hari itu ia akan mengajak saya bersenang-senang. Pada waktu itu, saya sama sekali tidak tahu kemana beliau akan membawa saya pergi.

Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam lebih, saya sampai di daerah kelapa gading. Beliau memarkirkan mobil kami di sebuah tanah kosong yang luas. Saat saya turun dari mobil, saya terpana melihat sebuah tenda merah raksasa di tengah lapangan besar, lengkap dengan hiasan lampu bola-bola kuning, dan dikerumuni oleh ratusan orang. Terdapat pula sebuah bianglala besar yang berdiri kokoh di sebelah tenda merah tersebut. Saya baru menyadari bahwa ini adalah tempat pertunjukan sirkus. Oma saya ternyata sudah merencanakan ini dengan adiknya, yang juga datang membawa cucu-cucunya untuk melihat pertunjukan. Kesedihan saya mendadak hilang. Saya dan sepupu-sepupu saya sangat menikmati berbagai macam atraksi. Ingatan saya tentang pertengkaran di rumah seakan hilang di dalam topi pesulap. Kelompok trapeze melayang-layang di atas kepala saya seakan mengajak pikiran saya untuk melayang bersama. Senja itu, saya dibahagiakan oleh arena yang penuh dengan magis.

Hampir 14 tahun berlalu dan saya masih ingat dengan jelas tenda merah raksasa yang pernah menjadi pintu kebahagiaan saya. Saya ingat rasa takjub yang muncul karena melihat atraksi. Hari ini, sepanjang menyetir pulang sehabis bekerja, saya memutar kembali rekaman kejadian itu di pikiran saya. Perasaan mendadak sesak membayangkan almarhumah oma. Mata saya berair mengingat oma pernah merubah hari menyedihkan saya menjadi hari yang penuh fantasi.

Namun ada perasaan bahagia yang bertahan hingga saat ini. Karena tenda merah, bianglala, lampu kuning yang gemerlap serta riuhnya suasana sirkus pernah menjadi bagian masa kecil saya.


I miss you Oma. Keep making happiness up there, okay? Just like what you did to me.


Am.

mengertilah, nyonya.

3 comments
kesenangan-kesenangan itu bisa hilang dalam sekejap.
sungguh aku tidak peduli, nyonya.
aku hanya ingin dia yang berlari dari kejauhan
membawakanku air.

jangan paksa aku menutup hati,
lalu membutakannya dengan kemakmuran
yang diberi gelar oleh angka.

angka mungkin saja tiba-tiba hilang, nyonya. ia bisa pergi sesukanya.

begitulah, nyonya.
aku hanya ingin dia yang tulus membawakanku air.
air yang mungkin keruh.
namun ia terus mencari kembali yang jernih.
sambil sesekali merawat lukaku.

tidakkah nyonya takut?
jika suatu saat, aku hidup, tapi tak lagi merasa hidup,
akibat kemakmuran fana itu sendiri?

Dunia sedang istirahat. Walau sejenak.

5 comments

di sebuah kedai,
ada aku yang duduk di dekat pintu, dan seseorang sedang menyapu..
hampir tak ada lalu lalang yang terlihat.

disudut pusat perbelanjaan yang sepi, ada damai yang aku resapi.

10 malam sudah berdenting.
kendaraan-kendaraan sudah pulang, bersiap untuk berlomba sampai ke tempat kerja esok hari.

namun, aku masih disini.
di sebuah kedai.
ada aku yang duduk di dekat pintu, dan seseorang sedang menyapu..

untuk beberapa menit, aku merasa dunia tidak menghakimiku.

"kau kan memburu ku, dalam benci mu"

5 comments
maaf sayang.
jika hari ini, malammu berubah
menjadi kelabu.
bahagiamu pergi.
berlarian menjauhimu.

sayang.
aku melihat mata yang tersesat itu.
menahan ombak yang memaksa keluar.
kemudian berubah menatap tajam
mencari bayanganku
yang telah pergi jauh.

tak apa sayang.
jika hati itu akhirnya penuh benci.
aku mengerti.

tak apa sayang.
jika kelak aku mati dalam buruanmu.
aku mengerti.

dan jika tiba saatnya,
ketika dendammu terbalaskan,
aku akan turut bahagia.
kamu.aku.
kita akan menjadi satu.
disaat aku telah menjadi abu,
yang perlahan membusuk
di dasar hatimu.

sejujurnya. aku sudah lama mati.
tatapanmu saat itu sudah menusukku perlahan.



♪ Noh Salleh - Sang Penikam ♪

Am.

Popular Posts

Gadget #4

 

Gadget #1

Gadget #2

Gadget #3